Standar Ganda Penegak Perda Hiburan di Pamekasan

- Publisher

Selasa, 19 Agustus 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Polemik hiburan kembali mencuat di Kabupaten Pamekasan. Setelah beberapa waktu lalu Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pamekasan menutup  Teman Juang Cafe karena dinilai melanggar Peraturan Daerah (Perda), kini muncul kasus baru yang justru menyeret nama Bank Jatim Cabang Pamekasan.

Ironisnya, hingga saat ini belum terendus adanya tindakan tegas dari Pemkab terhadap bank milik daerah tersebut, meski kasusnya menuai kecaman publik.

Video Pesta Saweran di Kantor Bank Jatim

Sebuah video yang memperlihatkan pesta di dalam kantor Bank Jatim Cabang Pamekasan pada 3 Juli 2025 mencuat dan menjadi perbincangan hangat warga Pamekasan.

Dalam video tersebut terlihat aksi saweran terhadap dua Lady Companion (LC) oleh sejumlah pegawai dan pejabat bank. Rekaman itu segera menimbulkan kegaduhan, lantaran dilakukan di kantor sebuah Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang notabene berada di bawah kendali Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

Banyak pihak menilai  peristiwa itu tidak hanya mencoreng nama baik lembaga perbankan, tetapi juga bertabrakan dengan identitas Pamekasan sebagai Gerbang Salam —sebuah jargon religius yang selama ini dijunjung tinggi sebagai ikon kota santri.

Baca Juga  Mengurai Misteri Dana Hibah Jatim: Siapa Dalang di Balik Kerugian Negara?

Jargon-jargon bernada islami inilah yang  menjadi bahan bakar untuk menggerakkan massa menyikapi lebih jauh pada hal-hal yang beraroma maksiat.

Kontras dengan lambannya respons terhadap kasus Bank Jatim atau memang enggan merespon, Pemkab Pamekasan justru bergerak cepat menutup Teman Juang Cafe hanya karena sebuah video penampilan DJ viral di media sosial malam itu.

Video yang memperlihatkan penampilan DJ Aqinn x Yezzy asal Malang  itu sempat beredar luas di TikTok, Facebook, hingga WhatsApp. Tidak butuh waktu lama, Bupati Kholilurrahman langsung memerintahkan Satpol PP untuk menindak dan menutup kafe tersebut.

“Saya sudah perintahkan, kalau memang betul begitu, maka wajib ditutup!” begitu yang disampaikan Bupati Pamekasan yang dikutip media mainstream.

Perintah itu langsung dieksekusi pada Minggu (27/7/2025). Kepala Satpol PP Pamekasan, Yusuf Wibiseno, membenarkan bahwa Teman Juang Cafe resmi ditutup berdasarkan surat perintah tugas Nomor SPT.800.1.11./07.GD/432.305/2025.

Penutupan melibatkan banyak pihak: Satpol PP, DPMPTSP, Disporapar, aparat tiga pilar keamanan, lurah, babinsa, bhabinkamtibmas Kelurahan Patemon, hingga Polsek Kota.

Baca Juga  Wanita Muda Ditemukan Tak Sadarkan Diri di Pamekasan, Diduga Over Alkohol

Kafe tersebut dinilai melanggar Perda Pamekasan Nomor 2 Tahun 2019 tentang hiburan dan rekreasi serta Perda Nomor 3 Tahun 2019 tentang ketertiban umum.

Sebagai warga Pamekasan sikap tegas terhadap tempat-tempat hiburan di sekitar sudah bukan hal yang baru di benak saya:

Ratusan massa pernah melakukan aksi penutupan paksa tempat karaoke Moga Jaya, di Kelurahan Kolpajung di tahun 2023, tempat wisata ‘Bukit Bintang’ yang berada di Palduding dibakar lantaran dinilai berpotensi menjadi tempat maksiat, tahun 2020 dan masih banyak tempat hiburan lainya yang menambah catatan bahwa tempat hiburan yang tidak sesuai standar etis masyarakat tidak akan tumbuh di Pamekasan.

Dalam hal ini, bisa dikatakan sikap tegas pemerintah dan masyarakat (sebagian) selaras, setidaknya saya menyakini itu. Akan tetapi keyakinan saya tiba-tiba goyah ketika melihat sikap Pemkab  menutup sebuah kafe swasta yang hanya menampilkan DJ ditutup dengan cepat, sementara pesta sawer di kantor Bank Jatim—yang jelas melibatkan pegawai lembaga milik pemerintah—belum tersentuh sanksi?

Atau mungkin Pemkab Pamekasan punya standar ganda dalam penegakan aturan di bumi tercinta ini, Wallahu a’lam.

Baca Juga  Aaliyah Massaid Jadi Salah Satu Sosok Paling Dicari di Google Tahun 2023

Penulis: Umarul Faruk

Follow WhatsApp Channel www.suaranet.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Upgrade HP atau Upgrade Gengsi?
Catatan Kritis Seleksi Sekda Sumenep, Dosa-Dosa Birokratis dan Etis Calon Kuat
PPK Ormawa: Wadah Kreativitas Mahasiswa dan Motor Penggerak Kemandirian Desa
Mengurai Misteri Dana Hibah Jatim: Siapa Dalang di Balik Kerugian Negara?
Intelektual Organik dalam Perjuangan Sosial dan Politik di Indonesia
Konflik Palestina: Ketika Dunia Diam, Rakyat Sipil Harus Bergerak
Drama Posko Pengaduan BSPS: Topeng Kepura-puraan DPRD Sumenep di Tengah Skandal Pokir
Media Sosial dan Perubahan Paradigma Komunikasi

Berita Terkait

Minggu, 17 Mei 2026 - 10:32 WIB

Upgrade HP atau Upgrade Gengsi?

Jumat, 30 Januari 2026 - 15:47 WIB

Catatan Kritis Seleksi Sekda Sumenep, Dosa-Dosa Birokratis dan Etis Calon Kuat

Jumat, 26 September 2025 - 09:51 WIB

PPK Ormawa: Wadah Kreativitas Mahasiswa dan Motor Penggerak Kemandirian Desa

Selasa, 19 Agustus 2025 - 19:19 WIB

Standar Ganda Penegak Perda Hiburan di Pamekasan

Senin, 19 Mei 2025 - 14:44 WIB

Mengurai Misteri Dana Hibah Jatim: Siapa Dalang di Balik Kerugian Negara?

Berita Terbaru

Fenomena flexing gadget mahal di media sosial semakin sering ditemui di era digital. Banyak orang menjadikan gadget premium sebagai simbol gaya hidup, status sosial, dan sarana mencari validasi dari lingkungan sekitar. foto/ist

Opini

Upgrade HP atau Upgrade Gengsi?

Minggu, 17 Mei 2026 - 10:32 WIB