PPK Ormawa: Wadah Kreativitas Mahasiswa dan Motor Penggerak Kemandirian Desa

- Publisher

Jumat, 26 September 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

PPK Ormawa: Wadah Kreativitas Mahasiswa dan Motor Penggerak Kemandirian Desa.

PPK Ormawa: Wadah Kreativitas Mahasiswa dan Motor Penggerak Kemandirian Desa.

Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi menjadi angin segar bagi dunia pendidikan tinggi di Indonesia. Program ini memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk keluar dari rutinitas akademis dan terjun langsung ke masyarakat. Tujuannya sangat mulia, yaitu memberdayakan masyarakat dengan memecahkan masalah sosial, ekonomi, dan lingkungan lokal, sekaligus mengasah soft skill dan hard skill mahasiswa.

Lebih dari Sekadar KKN

Berbeda dengan Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang umumnya berlangsung sekitar 40 hari, PPK Ormawa dilaksanakan dalam rentang waktu yang lebih lama, yakni sekitar empat bulan. Durasi yang panjang ini dirancang agar program yang dijalankan tidak hanya menyentuh permukaan, tetapi mampu membentuk kemandirian masyarakat sehingga mereka dapat melanjutkan program tersebut secara mandiri setelah tim mahasiswa menyelesaikan tugasnya.

Pemberdayaan Berbasis Kebutuhan Lokal

Fokus utama PPK Ormawa adalah pemberdayaan yang menempatkan masyarakat sebagai subjek atau pelaku utama pembangunan, bukan sekadar objek. Pendekatan ini sejalan dengan teori pembangunan partisipatif dari para ahli seperti Jim Ife dan Robert Chambers, yang menekankan pentingnya pendekatan bottom-up (dari bawah ke atas). Artinya, setiap inovasi dan solusi harus lahir dari aspirasi, kebutuhan, serta potensi yang benar-benar ada di masyarakat, bukan ide canggih yang dipaksakan oleh mahasiswa.

Baca Juga  Mahasiswa HTN UIN Madura Komitmen Kuatkan 'Fondasi Moral' Bangsa di Usia Ke-4 

Aksi Nyata di Desa Serang

Contoh konkret penerapan prinsip ini dapat dilihat pada kegiatan PPK Ormawa Unit Klinik Tani Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman di Desa Serang, Purbalingga. Program mereka secara efektif menerapkan empat pilar pemberdayaan menurut Prof. Mardikanto (2003):

Bina Manusia: Sumber daya manusia (SDM) lokal ditingkatkan melalui pelatihan teknis, seperti pembuatan pupuk dan pestisida organik. Tujuannya adalah mengurangi ketergantungan petani pada produk kimia.

Bina Usaha: Masyarakat diberi akses dan kemampuan untuk mengembangkan kegiatan ekonomi produktif. Contohnya adalah pelatihan pengolahan dan pemasaran digital untuk produk turunan stroberi—komoditas unggulan desa—yang sebelumnya sering terbuang. Para ibu di Kelompok Wanita Tani (KWT) diajarkan membuat selai, manisan, dan pai stroberi untuk meningkatkan nilai jual.

Bina Lingkungan: Lingkungan fisik yang mendukung diciptakan melalui kegiatan penanaman 1.000 pohon kopi di lahan miring. Selain bernilai ekonomis, aksi ini juga berfungsi untuk mencegah erosi dan tanah longsor.

Bina Kelembagaan: Wadah aspirasi dan kerja sama masyarakat diperkuat. Melalui PPK Ormawa, dibentuk Sanggar Tani yang beranggotakan petani muda untuk memproduksi pupuk organik, serta mengaktifkan kembali Kelompok Wanita Tani (KWT) untuk mengelola produk turunan stroberi.

Baca Juga  Mahasiswa UNAIR BBK 5 Blambangan Ajak Siswa SDN 2 Blambangan Kelola Sampah Sejak Dini hari

Menurut saya, rancangan program yang telah dibuat oleh tim PPK Ormawa Unit Klinik Tani Universitas Jenderal Soedirman sangat tepat karena menjawab langsung permasalahan yang ada, yaitu ketergantungan pada pupuk kimia dan banyaknya hasil panen stroberi yang terbuang.

Kunci Keberlanjutan: Rasa Memiliki

Dengan melibatkan masyarakat sejak tahap perencanaan, program ini menumbuhkan rasa memiliki (sense of ownership). Inilah modal utama yang memastikan keberlanjutan program, bahkan setelah mahasiswa kembali ke kampus. PPK Ormawa tidak lagi menjadi proyek sementara, melainkan katalisator perubahan sosial yang berkelanjutan.

Sebagai penutup, PPK Ormawa adalah instrumen strategis untuk mencetak generasi mahasiswa yang peka terhadap realitas sosial sekaligus mampu memberdayakan masyarakat secara nyata. Selama prinsip partisipatif, kolaboratif, dan berkelanjutan terus dipegang teguh, program ini akan terus menjadi motor penggerak kemandirian desa dan wujud nyata kontribusi perguruan tinggi bagi kemajuan bangsa.

*) Penulis adalah Atika Wildatun Hidayat, seorang mahasiswi berasal dari Desa Purwosari Rt.01/02, Puring, Kebumen.

Follow WhatsApp Channel www.suaranet.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Upgrade HP atau Upgrade Gengsi?
Catatan Kritis Seleksi Sekda Sumenep, Dosa-Dosa Birokratis dan Etis Calon Kuat
Standar Ganda Penegak Perda Hiburan di Pamekasan
Mengurai Misteri Dana Hibah Jatim: Siapa Dalang di Balik Kerugian Negara?
Intelektual Organik dalam Perjuangan Sosial dan Politik di Indonesia
Konflik Palestina: Ketika Dunia Diam, Rakyat Sipil Harus Bergerak
Drama Posko Pengaduan BSPS: Topeng Kepura-puraan DPRD Sumenep di Tengah Skandal Pokir
Media Sosial dan Perubahan Paradigma Komunikasi

Berita Terkait

Minggu, 17 Mei 2026 - 10:32 WIB

Upgrade HP atau Upgrade Gengsi?

Jumat, 30 Januari 2026 - 15:47 WIB

Catatan Kritis Seleksi Sekda Sumenep, Dosa-Dosa Birokratis dan Etis Calon Kuat

Jumat, 26 September 2025 - 09:51 WIB

PPK Ormawa: Wadah Kreativitas Mahasiswa dan Motor Penggerak Kemandirian Desa

Selasa, 19 Agustus 2025 - 19:19 WIB

Standar Ganda Penegak Perda Hiburan di Pamekasan

Senin, 19 Mei 2025 - 14:44 WIB

Mengurai Misteri Dana Hibah Jatim: Siapa Dalang di Balik Kerugian Negara?

Berita Terbaru

Fenomena flexing gadget mahal di media sosial semakin sering ditemui di era digital. Banyak orang menjadikan gadget premium sebagai simbol gaya hidup, status sosial, dan sarana mencari validasi dari lingkungan sekitar. foto/ist

Opini

Upgrade HP atau Upgrade Gengsi?

Minggu, 17 Mei 2026 - 10:32 WIB