Relevansi Organisasi Kemahasiswaan Perspektif Sosiologi

- Publisher

Minggu, 30 Juni 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Ada Senandung Nacita

Foto: Ada Senandung Nacita

Opini, SuaraNet – “Nanti kalo udah kuliah aku pengen ikut organisasi di kampus, ah. Biar ga dicap jadi mahasiswa kupu-kupu.” Begitu celoteh calon mahasiswa yang semangat dalam mengembangkan diri mereka di dunia perkuliahan. Dalam hal ini, mahasiswa sering kali mencari cara untuk memperkaya pengalaman kuliah mereka di luar ruang kelas. Salah satu cara yang paling efektif adalah dengan bergabung di organisasi kemahasiswaan. Namun, seberapa besar pengaruh organisasi kemahasiswaan terhadap pengembangan diri mahasiswa? Apakah partisipasi dalam organisasi kampus benar-benar dapat membentuk karakter bagi mahasiswa? Serta, bagaimana sosiologi organisasi memandang organisasi kemahasiswaan sebagai upaya dalam pengembangan karakter diri.

Dalam pengertiannya, organisasi internal kampus merupakan organisasi mahasiswa yang melekat pada pribadi kampus atau universitas dan memiliki kedudukan resmi di lingkungan perguruan tinggi (Fajarudin, 2019). Sebagaimana yang tertuang di dalam undang-undang nomor 12 tahun 2012 tentang pendidikan tinggi yaitu pada Pasal 77 Ayat 1 sampai Ayat 3, bahwa organisasi kemahasiswaan menjadi wadah dalam mengembangkan bakat, minat, dan potensi pada mahasiswa, antara lain dalam bentuk sikap kepekaan, daya kritis, keberanian, rasa kebanggaan, tanggung jawab, serta kepemimpinan.

Pengembangan Karakter

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Putri & Supriyanto (2020)  menyatakan bahwa proses pembentukan karakter dapat diterapkan pada tingkat perguruan tinggi yaitu melalui keikutsertaan aktif dalam organisasi mahasiswa. Pembentukan karakter mahasiswa dapat dilihat dari keseharian interaksi denga lingkungan sekitarnya. Interaksi seseorang dengan orang lain di lingkungan tersebut menumbuhkan karakter. Oleh karena itu, pembentukan karakter individu seseorang di lingkungan tergantung bagaimana individu tersebut beradaptasi dan berinteraksi dalam berorganisasi.

Pengalaman dalam berorganisasi membentuk karakter dan kepribadian seseorang secara signifikan. Proses perkembangan kepribadian terjadi secara otomatis ketika seseorang mengorganisasikan dirinya, karena kita diajarkan untuk berpikir kritis, menyelesaikan masalah, dan menghormati satu sama lain, yang tentunya akan sangat bermanfaat bagi lingkungan sekitar kita.

Baca Juga  Gibran Rakabuming Raka Dikritik karena Tidak Memiliki Pengalaman

Dengan adanya organisasi dalam kampus memungkinkan mahasiswa memperoleh keterampilan di luar bidang akademiknya, yaitu keterampilan atau soft skills. Saat ini, kemampuan akademis dan intelektual saja tidak dapat menjamin kesuksesan, Kebanyakan suksesnya seseorang diperoleh karena keterampilan atau soft skills yang mereka miliki. Disini organisasi memberikan kesempatan untuk bertemu  banyak orang-orang hebat (Damayanti, 2016).

Beberapa karakteristik mahasiswa yang aktif berorganisasi yaitu mereka terlibat aktif dalam  mengikuti kepanitian dan menjadi pengurus harian. Mereka juga menghabiskan lebih banyak waktu di ruangan atau sekretariat organisasi untuk berdiskusi dengan sesama pengurus tentang hal-hal yang berkaitan dengan organisasi. Tentu hal tersebut bukan hal yang mudah, mereka harus dapat membagi waktu dengan baik dan memiliki energi yang lebih banyak karena mereka berperan sebagai pengurus organisasi dan juga sebagai mahasiswa yang memiliki tanggungan tugas akademik.

Namun, dengan keikutsertaan aktif mahasiswa dalam mengikuti organisasi di dalam kampus, mahasiswa diharapkan dapat mengembangkan karakter dirinya dengan memiliki tingkat kepekaan sosial yang tinggi. Melalui pengkaderan, mahasiswa dapat menunjukkan bahwa mereka dapat memberikan dampak positif terhadap lingkungan kampus. Tujuannya adalah untuk menjadi teladan bagi rekan-rekan lainnya. Partisipasi dalam organisasi memberikan kontribusi terhadap pengembangan karakteristik sosial siswa. Berinteraksi dengan banyak  sesama mahasiswa, birokrasi kampus, dan  program pengabdian masyarakat.

Perspektif Sosiologi Organisasi

Menurut Fithriyyah (2021) teori organisasi melambangkan studi tentang bagaimana organisasi menjalankan fungsinya dan bagaimana mereka mempengaruhi dan dipengaruhi oleh orang-orang yang bekerja didalamnya. Interaksi pada level kelompok dan makro organisasi dipengaruhi oleh berbagai disiplin ilmu, dengan sosiologi menjadi salah satu yang paling berpengaruh.

Baca Juga  Jamu Waras untuk Kaula Birahi Intelektual!

Alo Liliweri (2014:15-16) lebih jauh mengungkapkan tiga ruang lingkup sosiologi organisasi yaitu: 1. Sosiologi organisasi mempelajari konsep, aspek teoritis, metode penelitian, struktur, konflik, budaya, iklim dan komunikasi dalam organisasi. 2. Sosiologi organisasi mempelajari tiga unit kajian yaitu individu, hubungan antar pribadi dan kelompok kerja serta organisasi besar. Kajiannya meliputi, motivasi, produktivitas, sasaran, komitmen dan kemampuan individu dan kelompok dalam organisasi. 3. Sosiologi organisasi mempelajari organisasi sebagai salah satu bentuk kelompok sosial yang formal yang ada dan berkembang di masyarakat. Ruang lingkup sosiologi organisasi diantaranya adalah individu, hubungan antar pribadi dan kelompok kerja serta organisasi.

Organisasi kemahasiswaan adalah salah satu bentuk organisasi yang memiliki pengaruh signifikan terhadap pengembangan diri mahasiswa. Dalam perspektif sosiologi organisasi, keterlibatan dalam organisasi kemahasiswaan dapat dilihat melalui tiga ruang lingkup utama yang disebutkan oleh Liliweri (2014).

Organisasi kemahasiswaan memiliki struktur yang jelas, dengan hierarki kepemimpinan dan pembagian tugas yang spesifik. Struktur yang telah ditetapkan diharapkan dapat membantu mahasiswa sebagi pengurus dalam memahami pentingnya koordinasi dan manajemen dalam mencapai tujuan bersama. Melalui interaksi dalam struktur ini, mahasiswa dipaksa untuk belajar mengenai kepemimpinan, tanggung jawab, serta manajemen konflik, yang semuanya akan mengalir pada pengembangan karakter dan keterampilan mereka.

Interaksi yang mereka lakukan dalam organisasi kemahasiswaan adalah elemen kunci dalam pengembangan diri mahasiswa. Menurut Herbert Blummer (1900), makna tercipta karena adanya interaksi. Dalam hal ini, makna yang diberikan mahasiswa terhadap peran mereka dalam organisasi dibentuk melalui pengalaman dan interaksi sehari-hari. Sebagai contoh, mahasiswa yang aktif dalam organisasi akan mengembangkan keterampilan komunikasi, kerjasama tim, dan kemampuan bernegosiasi.

Baca Juga  Guru Penggerak Dari Kabupaten Sigi Diberi Penghargaan oleh Presiden Jokowi di Hari Guru Nasional 2023

Budaya organisasi kemahasiswaan memainkan peran penting dalam membentuk identitas dan nilai-nilai anggotanya. Budaya organisasi yang suportif dapat menciptakan lingkungan di mana mahasiswa merasa aman untuk mengekspresikan diri dan mengambil risiko yang mendorong perkembangan pribadi dan profesionalitas mahasiswa.

Dalam perspektif sosiologi organisasi, organisasi kemahasiswaan memainkan peran penting dalam pengembangan diri mahasiswa. Melalui struktur yang jelas, interaksi sosial, budaya yang mendukung, dan motivasi yang kuat, mahasiswa dapat mengembangkan keterampilan dan karakter yang akan bermanfaat bagi mereka dan lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu, keterlibatan dalam organisasi kemahasiswaan harus didorong dan difasilitasi oleh universitas dengan baik untuk menciptakan generasi pemimpin masa depan yang kompeten dan mempunyai integritas.

——————

*) Penulis adalah Ada Senandung Nacita,
Mahasiswa Sosiologi di Universitas Muhammadiyah Malang.

 

Referensi

Damayanti, E., & Hertinjung, W. S. (2019). Manajemen diri mahasiswa yang aktif   berorganisasi.

Fajarudin, F. (2019). PENGARUH ORGANISASI INTRA KAMPUS TERHADAP PRESTASI      AKADEMIK MAHASISWA (Studi Kasus Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Muhammadiyah Pringsewu) (Doctoral dissertation, Universitas Muhammadiyah   Pringsewu).

Fithriyyah, M. U. (2021). Dasar-Dasar Teori Organisasi.

Liliweri, A. (2014). Sosiologi dan komunikasi organisasi. Jakarta: Bumi Aksara.

Putri, M. A., & Supriyanto, A. (2020). Pembangunan Karakter Mahasiswa Melalui Keikutsertaan Dalam Organisasi Kemahasiswaan. In Seminar Nasional Arah Manajemen Sekolah Pada Masa Dan Pasca Pandemi Covid-19.

UU No. 12 Tahun 2012 Tentang Pendidikan Tinggi

 

Print Friendly, PDF & Email

Penulis : Senandung Nacita

Editor : Dalif

Berita Terkait

Peran Krusial Bendahara dalam Kesuksesan Organisasi
Transformasi dan Dinamika Organisasi: Sebuah Perspektif Sosiologi
Telaah Harmoni Beragama: Peran Rukun Interfaith Leadership di Pamekasan
Menjadi Cantik dengan Kekayaan Perempuan
Kisah Sang Maestro, Dalang di Balik Layar Politik Wakanda
Menyelesaikan Dilema: Kehendak Agama vs Kehendak Orang Tua dalam Kasus Nikah Dini
Hujan dan Doa
Muhasabah, Ritual Sunyi di Penghujung Tahun 2023

Berita Terkait

Senin, 1 Juli 2024 - 18:03 WIB

Peran Krusial Bendahara dalam Kesuksesan Organisasi

Minggu, 30 Juni 2024 - 00:09 WIB

Relevansi Organisasi Kemahasiswaan Perspektif Sosiologi

Kamis, 27 Juni 2024 - 01:34 WIB

Transformasi dan Dinamika Organisasi: Sebuah Perspektif Sosiologi

Jumat, 15 Maret 2024 - 14:27 WIB

Telaah Harmoni Beragama: Peran Rukun Interfaith Leadership di Pamekasan

Kamis, 29 Februari 2024 - 22:11 WIB

Menjadi Cantik dengan Kekayaan Perempuan

Rabu, 21 Februari 2024 - 18:23 WIB

Kisah Sang Maestro, Dalang di Balik Layar Politik Wakanda

Senin, 19 Februari 2024 - 17:47 WIB

Menyelesaikan Dilema: Kehendak Agama vs Kehendak Orang Tua dalam Kasus Nikah Dini

Kamis, 4 Januari 2024 - 21:03 WIB

Hujan dan Doa

Berita Terbaru

Dok. Dutabaca

Berita

PBNU Sesalkan Kunjungan Lima Cendekiawan NU ke Israel

Senin, 15 Jul 2024 - 22:38 WIB