Di era digital seperti sekarang, gadget bukan lagi sekadar alat untuk berkomunikasi.
Handphone, laptop, smartwatch, hingga tablet sudah menjadi bagian dari gaya hidup sehari-hari.
Hampir semua aktivitas bisa dilakukan melalui gadget, mulai dari belajar, bekerja, belanja,
membuat konten, sampai mencari hiburan. Namun, di balik fungsi penting tersebut, muncul satu
fenomena sosial yang cukup menarik untuk dibahas, yaitu kebiasaan memamerkan gadget mahal
atau yang sering disebut flexing.
Fenomena pamer gadget mahal mudah sekali ditemukan, terutama di media sosial.
Ada yang mengunggah foto unboxing handphone terbaru, memperlihatkan laptop keluaran terbaru,
atau membuat konten tentang harga gadget yang digunakan. Sebenarnya, memiliki gadget mahal
bukanlah hal yang salah. Setiap orang berhak membeli barang sesuai kebutuhan dan kemampuannya.
Masalah mulai muncul ketika gadget tidak lagi digunakan berdasarkan fungsi,
tetapi lebih dijadikan alat untuk menunjukkan status sosial.
Menurut saya, flexing gadget sering kali muncul karena adanya keinginan untuk terlihat sukses,
keren, atau lebih unggul dibanding orang lain. Dalam lingkungan pertemanan maupun media sosial,
gadget tertentu kadang dianggap sebagai simbol gengsi. Misalnya, seseorang yang memakai HP
keluaran terbaru sering dianggap lebih mampu secara ekonomi. Padahal, nilai seseorang tentu
tidak bisa diukur hanya dari merek HP yang dipakai.
Di sisi lain, kita juga tidak bisa langsung menyalahkan semua orang yang membagikan gadget
mahalnya di media sosial. Bisa saja mereka sedang senang karena berhasil membeli barang impian
dari hasil kerja kerasnya sendiri. Ada juga yang membuat konten review untuk membantu orang lain
sebelum membeli produk. Jadi, yang perlu dilihat bukan hanya barangnya, tetapi juga tujuan di balik
tindakan tersebut. Apakah untuk berbagi informasi atau hanya untuk mencari validasi?
Fenomena ini menjadi lebih kompleks karena media sosial sering menciptakan tekanan tersendiri.
Ketika melihat orang lain memakai gadget mahal, sebagian orang bisa merasa tertinggal atau kurang
percaya diri. Akhirnya, muncul keinginan untuk membeli barang serupa, meskipun sebenarnya belum
tentu membutuhkannya. Bahkan, ada yang rela memaksakan diri, mencicil di luar kemampuan,
atau membeli hanya demi terlihat mengikuti tren yang ada. Jika sudah seperti ini,
gadget bukan lagi menjadi alat bantu, tetapi berubah menjadi beban.
Padahal, gadget yang bagus tidak selalu yang paling mahal. Yang terpenting adalah sesuai dengan
kebutuhan. Mahasiswa, misalnya, mungkin membutuhkan laptop yang kuat untuk menjalankan
perangkat lunak tertentu. Content creator mungkin membutuhkan kamera handphone yang bagus
dan penyimpanan yang besar untuk bahan kontennya. Sementara itu, pengguna biasa mungkin
hanya membutuhkan gadget untuk komunikasi dan hiburan ringan. Jadi, kebutuhan setiap orang
berbeda dan tidak harus selalu mengikuti standar orang lain.
Sebagai pengguna, kita perlu bijak dalam melihat fenomena ini. Tidak perlu minder jika gadget
yang kita gunakan bukan yang paling bagus. Selama masih berfungsi dengan baik dan mendukung
aktivitas, maka gadget tersebut tetap bernilai. Sebaliknya, bagi yang memiliki gadget mahal,
tidak ada salahnya menikmati hasil kerja keras, tetapi sebaiknya tetap menjaga cara membagikannya
agar tidak terkesan merendahkan orang lain.
Selain itu, perkembangan teknologi yang sangat cepat juga membuat banyak orang merasa harus
selalu mengikuti tren terbaru. Padahal, tidak semua pembaruan gadget memberikan perubahan besar
dalam kehidupan sehari-hari. Sikap konsumtif seperti ini, jika terus dilakukan, dapat membuat seseorang
lebih fokus pada penampilan dibanding kebutuhan yang sebenarnya.
Pada akhirnya, pamer gadget mahal bisa menjadi gaya hidup, tetapi juga bisa menjadi bentuk
untuk mencari validasi dari orang lain. Semua bergantung pada niat dan cara seseorang
menampilkannya. Tulisan ini bukan untuk melarang orang membeli gadget mahal, melainkan
mengajak kita untuk lebih sadar bahwa harga barang tidak menentukan kualitas diri seseorang.
Gadget boleh canggih, tetapi pola pikir juga harus ikut berkembang. Jangan sampai kita sibuk
mengejar pengakuan dari layar, tetapi lupa membentuk nilai diri di kehidupan nyata.
Referensi
[1] K. Uyun, “Analisis Flexing di Media Sosial: Citra, Konsumsi, dan Tekanan Psikologis,”
KOMUNIKOLOGI: Jurnal Pengembangan Ilmu Komunikasi dan Sosial, 2025.
[2] DataReportal, “Digital 2026: Indonesia,” 2025.
[3] APJII, “APJII Jumlah Pengguna Internet Indonesia Tembus 221 Juta Orang,” 2024.
________
Penulis: Alif Athar Ghatfan Permana






