Diskresi
Tersibak gelora badai hingga menabrak wajah dengan penuh canggung. Kau pun langsung terdiam dibawa bisu oleh sumpah tempat kau bertanya sepenggal kisah
Rentetan perjalanan mengelabui makna. Kisah yang semestinya berbahagia di waktu-waktu silam, tapi kau masih saja meronta-ronta seperti kesetanan
“Maka, ilhamilah saat kau bersanding,
rebahlah jika lelah bersandar, renungkan walau hidup bersendu, tangiskan jika hendak berduka”
Di situ kau akan temukan istibdad; berkuasa dalam egosentris, untuk menilai diri sendiri dan menitikkan pikiran atas segala perbuatan-perbuatan dulu yang telah tawar
Jika masih begitu dan selamanya engkau tidak berkebyaran dalam gelap. Sinar-sinar hati perlahan redup—gelap menguasai tindakan itu di atas kesalahan
Ibarat relung dan jeluk ke bawah tanah; yang kian bertambah silap, yang kian menjadi jati diri namun kewalahan
2025
Usia yang Usai
Dunia menabukan;
tidak di mana-mana
tidak ke mana-mana
tidak mencari siapa-siapa
tidak menemukan apa-apa
Manusia usai; usia sia-sia
2025
Apalagi Untuk Tuhan
Tuhan. sekiranya aku belajar
Dari jalanan, hutan
Sungai, gunung, laut, danau
Hingga quasar-Mu.
Sebab ciptaan-Mu lebih berfungsi
Daripada hambamu yang bermalas-malasan kini
2025
Budak Tuhan
Kami rela setiap saat menjadi budak dunia yang selalu kau perintahkan dan kau berikan peringatan jika kami silaf dalam mencurangi sebuah pencaharian
Kami ikhlas menjadi budak, hanya untuk mendapat sebuah upah berupa pahala-pahalamu.
Kami sadar untuk sebisa mungkin melawan mahluk-mahluk asing yang mengganggu di setiap kenisbian
Kami jalani semua itu, setiap khusyuk
Sakramental-Mu
Dengan keadaan dibawah alas sujud-Mu
Di hadapan dinding,
Lingkungan alam; hutan-hutan, sungai, udara,
di ruang-ruang yang hampa,
di keabadian yang nyata,
Kami selalu terbayang-bayang dengan
Janji-janji sucimu yang kita harapkan.
Menangis sepanjang malam..
Menangis untuk kebajikan..
Abadi dan terselamatkan dari dunia singgasana
Memohon harapan
Jiwa-raga yang sehat
Pikiran-pikiran yang khidmat
Hingga menjadi manusia-unggul di dalam kehidupan
Menggapai keharmonisan, keserasian, keselarasan,
Dengan Tuhan yang sering terabaikan
2025
__________
Rifqi Septian Dewantara, pegiat sastra asal Balikpapan, Kalimantan Timur Mei 1998 merupakan alumnus Telkom University Bandung. Karya-karyanya tersebar di berbagai media online dan majalah digital seperti Media Indonesia, BeritaSatu, Suara Merdeka, Borobudur Writers & Cultural Festival, Bali Politika, Majalah Elipsis, dll. Buku antologi puisinya berjudul “LIKE” (2024) dan “SHARE” (2025) diterbitkan oleh Penerbit Pustaka Ekspresi. Kini sedang menyusun buku puisi tunggal “Aku Tidak Datang dari Masa Depan” (Langgam Pustaka, 2025). Bisa disapa melalui Instagram: @rifqiseptiandewantara






