Puisi-puisi Rifqi Septian Dewantara

- Publisher

Sabtu, 4 Oktober 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi/ist

Ilustrasi/ist

Diskresi

Tersibak gelora badai hingga menabrak wajah dengan penuh canggung. Kau pun langsung terdiam dibawa bisu oleh sumpah tempat kau bertanya sepenggal kisah

Rentetan perjalanan mengelabui makna. Kisah yang semestinya berbahagia di waktu-waktu silam, tapi kau masih saja meronta-ronta seperti kesetanan

“Maka, ilhamilah saat kau bersanding,

rebahlah jika lelah bersandar, renungkan walau hidup bersendu, tangiskan jika hendak berduka”

Di situ kau akan temukan istibdad; berkuasa dalam egosentris, untuk menilai diri sendiri dan menitikkan pikiran atas segala perbuatan-perbuatan dulu yang telah tawar

Jika masih begitu dan selamanya engkau tidak berkebyaran dalam gelap. Sinar-sinar hati perlahan redup—gelap menguasai tindakan itu di atas kesalahan

Ibarat relung dan jeluk ke bawah tanah; yang kian bertambah silap, yang kian menjadi jati diri namun kewalahan

2025

 

Usia yang Usai

Dunia menabukan;

tidak di mana-mana

tidak ke mana-mana

tidak mencari siapa-siapa

tidak menemukan apa-apa

Manusia usai; usia sia-sia

2025

 

Apalagi Untuk Tuhan

Tuhan. sekiranya aku belajar

Baca Juga  Korban Rumah Rumah Robohh Terima Bantuan Dari Bupati Pamekasan

Dari jalanan, hutan

Sungai, gunung, laut, danau

Hingga quasar-Mu.

Sebab ciptaan-Mu lebih berfungsi

Daripada hambamu yang bermalas-malasan kini

2025

 

Budak Tuhan

Kami rela setiap saat menjadi budak dunia yang selalu kau perintahkan dan kau berikan peringatan jika kami silaf dalam mencurangi sebuah pencaharian

Kami ikhlas menjadi budak, hanya untuk mendapat sebuah upah berupa pahala-pahalamu.

Kami sadar untuk sebisa mungkin melawan mahluk-mahluk asing yang mengganggu di setiap kenisbian

Kami jalani semua itu, setiap khusyuk

Sakramental-Mu

Dengan keadaan dibawah alas sujud-Mu

Di hadapan dinding,

Lingkungan alam; hutan-hutan, sungai, udara,

di ruang-ruang yang hampa,

di keabadian yang nyata,

Kami selalu terbayang-bayang dengan

Janji-janji sucimu yang kita harapkan.

Menangis sepanjang malam..

Menangis untuk kebajikan..

Abadi dan terselamatkan dari dunia singgasana

Memohon harapan

Jiwa-raga yang sehat

Pikiran-pikiran yang khidmat

Hingga menjadi manusia-unggul di dalam kehidupan

Menggapai keharmonisan, keserasian, keselarasan,

Dengan Tuhan yang sering terabaikan

2025

__________

Rifqi Septian Dewantara, pegiat sastra asal Balikpapan, Kalimantan Timur Mei 1998 merupakan alumnus Telkom University Bandung. Karya-karyanya tersebar di berbagai media online dan majalah digital seperti Media Indonesia, BeritaSatu, Suara Merdeka, Borobudur Writers & Cultural Festival, Bali Politika, Majalah Elipsis, dll. Buku antologi puisinya berjudul “LIKE” (2024) dan “SHARE” (2025) diterbitkan oleh Penerbit Pustaka Ekspresi. Kini sedang menyusun buku puisi tunggal “Aku Tidak Datang dari Masa Depan” (Langgam Pustaka, 2025). Bisa disapa melalui Instagram: @rifqiseptiandewantara

Follow WhatsApp Channel www.suaranet.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Festival Sastra-Sains Sivitas Kotheka ke-4 Menggali Roman-Roman Ekstraterestrial
Sajak-sajak WS Rendra
Jejak Sang Burung Merak W.S. Rendra
Ziarah ke Hati yang Tahir – Royyan Julian
Menumpas Burung-Burung Palsu Harper Lee
Perjalanan Memikat dan Penuh Misteri Novel Murder on the Orient Express
Menjelajahi Kejayaan dan Kehancuran dalam Novel Klasik ‘The Great Gatsby
Sajak-sajak Nyoman Trisna Dewi

Berita Terkait

Sabtu, 4 Oktober 2025 - 10:02 WIB

Puisi-puisi Rifqi Septian Dewantara

Sabtu, 10 Agustus 2024 - 17:21 WIB

Festival Sastra-Sains Sivitas Kotheka ke-4 Menggali Roman-Roman Ekstraterestrial

Minggu, 18 Februari 2024 - 07:46 WIB

Sajak-sajak WS Rendra

Selasa, 6 Februari 2024 - 09:30 WIB

Jejak Sang Burung Merak W.S. Rendra

Rabu, 18 Oktober 2023 - 20:42 WIB

Ziarah ke Hati yang Tahir – Royyan Julian

Berita Terbaru