Jejak Sang Burung Merak W.S. Rendra

- Publisher

Selasa, 6 Februari 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Rendra. foto/ist

Rendra. foto/ist

Masa Kecil dan Pendidikan

Willibrordus Surendra Broto Rendra, atau yang dikenal sebagai W.S. Rendra, lahir di Solo pada tanggal 7 November 1935. Ayahnya, R. Cyprianus Sugeng Brotoatmodjo, adalah seorang guru bahasa Indonesia dan bahasa Jawa di sekolah Katolik, Solo, di samping sebagai dramawan tradisional; sedangkan ibunya, Raden Ayu Catharina Ismadillah, adalah seorang penari srimpi di Keraton Surakarta Hadiningrat.

Rendra menempuh pendidikan di TK Marsudirini, Yayasan Kanisius, dan SD s.d. SMA Katolik, SMA Pangudi Luhur Santo Yosef, Solo (tamat pada tahun 1955). Kemudian, dia melanjutkan studi di Jurusan Sastra Inggris, Fakultas Sastra dan Kebudayaan, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Pada tahun 1964, Rendra mendapatkan beasiswa American Academy of Dramatic Arts (AADA) dan menimba ilmu di New York selama tiga tahun.

Karier dan Karya

ADVERTISEMENT

cc59f439 1d50 439b 9c3d 98bc5fcbcdb8 scaled
33dda0b5 fba7 402f 989c e591e49519cf scaled
cc59f439-1d50-439b-9c3d-98bc5fcbcdb8
33dda0b5-fba7-402f-989c-e591e49519cf
previous arrow
next arrow

SCROLL TO RESUME CONTENT

Rendra sudah mulai menulis puisi dan karya sastra lainnya sejak masa remajanya. Pada tahun 1952, puisinya dimuat di Majalah Siasat untuk pertama kalinya. Sejak saat itu, karyanya menghiasi berbagai media massa dan mengantarkannya ke puncak kejayaan sebagai penyair ternama.

Baca Juga  Viral! Aksi Pencurian Tertangkap Kamera: Dua Pria Berpeci Hitam dan Sarung Rampok Toko di Pasar Blumbungan Pamekasan!

Rendra dikenal dengan gaya puisinya yang unik dan penuh semangat. Ia sering mengangkat tema-tema sosial dan politik dalam karyanya, dan tak jarang pula menggunakan humor dan satir untuk menyampaikan kritiknya. Beberapa puisi ternamanya antara lain “Ballada Orang-Orang Tercinta”, “Blues untuk Bonnie”, dan “Sajak-Sajak Sepatu Tua”.

Selain sebagai penyair, Rendra juga merupakan seorang dramawan yang ulung. Ia mendirikan Bengkel Teater di Yogyakarta pada tahun 1967 dan menghasilkan banyak karya drama monumental, seperti “Orang-Orang Biasa”, “Sekda”, dan “Mastodon dan Burung Kondor”. Karya-karyanya tak hanya dipentaskan di Indonesia, tetapi juga di berbagai negara di dunia.

Rendra juga dikenal sebagai seorang pemeran dan sutradara teater yang handal. Ia sering tampil dalam pementasan drama dan film, dan juga menyutradarai beberapa pertunjukan teater yang sukses.

Penghargaan dan Prestasi

Sepanjang karirnya, Rendra telah menerima berbagai penghargaan dan prestasi, baik di tingkat nasional maupun internasional. Beberapa penghargaan bergengsi yang diraihnya antara lain:

  • Hadiah Sastra Nasional (1988)
  • SEA Write Award (1986)
  • Fukuoka Asian Culture Prize (1995)
  • Prince Claus Award (2000)
Baca Juga  Someone Under Twillight

Wafat dan Warisan

W.S. Rendra wafat pada tanggal 6 Agustus 2009 di Kota Depok, Jawa Barat. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi dunia seni Indonesia.

Rendra telah meninggalkan warisan yang luar biasa bagi dunia seni Indonesia. Karya-karyanya yang penuh makna dan semangat terus menginspirasi banyak orang hingga saat ini. Ia tak hanya dikenang sebagai penyair dan dramawan ternama, tetapi juga sebagai sosok yang berani menyuarakan kritik dan memperjuangkan keadilan melalui karyanya.

Julukan “Si Burung Merak”

W.S. Rendra mendapat julukan “Si Burung Merak” karena beberapa alasan. Pertama, ia dikenal dengan gaya penampilannya yang flamboyan dan penuh warna, seperti burung merak. Kedua, karyanya penuh dengan variasi dan keindahan, seperti bulu burung merak yang berkilauan. Ketiga, ia memiliki suara yang lantang dan merdu, seperti kicauan burung merak.

W.S. Rendra adalah salah satu tokoh seni Indonesia yang paling berpengaruh. Karyanya telah menginspirasi banyak orang dan memberikan kontribusi besar bagi perkembangan seni dan budaya Indonesia. Ia akan selalu dikenang sebagai “Si Burung Merak” yang menggema di langit seni Indonesia.

Baca Juga  Persembahan KOPRI PMII Rayon Saptawikrama IAIN Madura: Refleksi Harlah Ke-56 Menggema di Pamekasan
Print Friendly, PDF & Email

Berita Terkait

Sajak-saja WS Rendra
Ziarah ke Hati yang Tahir – Royyan Julian
Menumpas Burung-Burung Palsu Harper Lee
Perjalanan Memikat dan Penuh Misteri Novel Murder on the Orient Express
Menjelajahi Kejayaan dan Kehancuran dalam Novel Klasik ‘The Great Gatsby
Sajak-sajak Nyoman Trisna Dewi
Peristiwa Sosial Masyarakat Madura dalam Kembang Selir
Bulan Ke Sebelas Milik Kita Berdua

Berita Terkait

Minggu, 18 Februari 2024 - 07:46 WIB

Sajak-saja WS Rendra

Selasa, 6 Februari 2024 - 09:30 WIB

Jejak Sang Burung Merak W.S. Rendra

Rabu, 18 Oktober 2023 - 20:42 WIB

Ziarah ke Hati yang Tahir – Royyan Julian

Senin, 16 Oktober 2023 - 16:54 WIB

Menumpas Burung-Burung Palsu Harper Lee

Kamis, 12 Oktober 2023 - 20:05 WIB

Perjalanan Memikat dan Penuh Misteri Novel Murder on the Orient Express

Kamis, 12 Oktober 2023 - 00:00 WIB

Menjelajahi Kejayaan dan Kehancuran dalam Novel Klasik ‘The Great Gatsby

Minggu, 23 Juli 2023 - 07:49 WIB

Sajak-sajak Nyoman Trisna Dewi

Minggu, 4 Juni 2023 - 14:16 WIB

Peristiwa Sosial Masyarakat Madura dalam Kembang Selir

Berita Terbaru

Ketua Majelis Ratna Dewi Pettalolo saat membacakan amar putusan perkara nomor. (foto: ist)

Berita

DKPP Pecat 10 Penyelenggara Pemilu di Pamekasan

Selasa, 23 Jul 2024 - 12:35 WIB