Ruang Mengemukakan Pendapat Menjadi Kapabilitas Seorang Perempuan

- Publisher

Sabtu, 21 Januari 2023

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: St. Maizah Mahasiswa Institut Agama Islam Negeri Madura

Foto: St. Maizah Mahasiswa Institut Agama Islam Negeri Madura

SUARANET- “A woman is the full circle. Within her is the power to create, nurture and transform.” — Diane Mariechild

Seorang wanita adalah lingkaran penuh. Di dalam dirinya ada kekuatan untuk menciptakan, memelihara, dan mengubah.

Emansipasi wanita bukan lagi kalimat tabu yang terdengar di telinga mahasiswa, di dalam berbagai forum ataupun seminar, pembahasan emansipasi wanita tidak luput dari pro dan kontra menurut argumen masing-masing dari audien. Pada dasarnya emansipasi wanita di gaungkan setelah perang dunia I disebabkan karena ketidak adilan dalam penempatan posisi perempuan dan laki-laki dimana lebih memprioritaskan laki-laki dalam segala hal, juga tidak adanya pemberian hak kepada perempuan seperti hak memperoleh pendidikan serta tidak adanya kesetaraan gender. Di Indonesia sendiri pejuang emansipasi wanita adalah R.A Kartini, selama masa hidupnya beliau terus berupaya untuk meningkatkan pendidikan dan mengangkat derajat wanita di tatanan sosial.

Dari yang awalnya wanita hanya diberikan peran di kawasan domistik (dapur, sumur, kasur), bahkan dipandang tidak layak untuk menempati posisi di depan layar, banyak tokoh yang terus mengupayakan keadilan bagi perempuan.

Seiring maraknya deskriminasi, penghapusan hak hidup layak, dan berbagai pandangan rendahan lainnya maka terbentuklah gerakan wanita yang terfokus pada proses pelepasan diri kaum perempuan dari kedudukan sosial yang rendah serta adanya pengekangan oleh sistem sosial yang membatasi kemungkinan mereka untuk berkembang, pemarataan keadilan, dan kebebasan berpendapat. Semenjak itulah peradaban perempuan semakin membaik, berkurangnya kebiasaan merendahkan dari pihak laki-laki bahkan wanita sudah di siapkan ruang untuk berkarir meskipun masih belum merata.

Baca Juga  Kisah Sang Maestro, Dalang di Balik Layar Politik Wakanda

Apakah kita pernah menyadari betapa rumitnya memperjuangkan hak-hak perempuan di tatanan sosial? Jika tidak di suarakan mungkin wanita masih tetap menjadi makhluk nomor 2 mengikuti opini dari kaum laki-laki di jaman dulu.

Namun tanpa kita sadari tiap kali terselenggaranya forum diskusi, baik di dalam kampus ataupun di luar kampus, masih banyak perempuan yang enggan menyuarakan pendapatnya atau sekedar menyumbangkan ide atau gagasannya dengan berbagai macam alasan, sehingga asumsi yang muncul dari beberapa kalangan adalah dua tipe: yang pertama, perempuan tidak diberikan kesempatan, yang kedua perempuan tidak menggunakan kesempatan dengan baik. Pernahkah kita menyadari bahwa forum sekecil apapun adalah amunisi untuk memperkaya pengetahuan? melatih mental? bahkan melatih publik speaking?

Ada beberapa alasan yang mendasari perempuan enggan berpendapat:

1. Takut Salah

Sebenarnya salah dalam mengutarakan pendapat di fase belajar itu sudah biasa, apalagi sebagai mahasiswa dituntut untuk mampu berbicara di depan umum, seperti keseharian dalam presentasi. Tidak jarang kita temui di suatu kelompok presentasi yang dapat menghidupkan suasana diskusi hanya satu atau dua orang saja, selain itu mereka lebih memilih untuk mendengarkan tanpa perlu membantu menjawab pertanyaan dari teman kelasnya.

Baca Juga  Puisi-puisi Aqil Husein Almanuri; Manuskrip Pesisir Sumenep

Padahal berani mengemukakan pendapat meskipun tatanan bahasanya belum sepenuhnya baik, itu sudah menjadi sebuah usaha pengembangan diri, usaha belajar berinteraksi, dan usaha meningkatkan hard skill atau soft skill.

2. Kurangnya Kesadaran

Tidak sedikit perempuan yang merasa bahwa berbicara di depan khalayak ramai merupakan hal yang biasa saja, tidak akan berpengaruh pada peningkatan motivasi belajar atau peningkatan karir di masa depan. Mereka ber asumsi bahwa berbicara dengan resmi di depan umum ataupun berdiskusi mengenai hal penting itu sama saja dengan ngobrol biasa, padahal kan berbeda. Hal inilah yang menjadi salah satu alasan kemunduran perempuan dalam mengambil peran di tengah peradaban.

3. Malu

Disisi lain, perempuan juga di intervensi oleh sifat malu yang tidak di usahakan untuk di hilangkan. Seperti pepatah mengatakan malu bertanya sesat di jalan, malu berbicara tidak akan di kenal.

Sifat ini memang mendominasi di dalam diri perempuan, karakternya cenderung menjaga dan tidak asal berbicara atau bertingkah. Namun, terkadang sifat malu ini terbawa juga pada hal negatif yang dapat menghambat perubahan pada perkembangan daya berpikir, seperti malu mengungkapkan pendapat.

Baca Juga  Fenomena Flexing di Media Sosial: Antara Identitas, Ekspresi Diri, dan Perubahan Sosial

Banyak sekali perempuan yang kerangka berpikirnya maju, namun tidak di implementasikan sebagai bahan diskusi di forum ataupun di kelas. mereka lebih banyak berpikir, mendengarkan, namun tidak mengutarakan.

Terlepas dari kebebasan berkembang, berpendapat, mengasah skill dan pintar publik speaking, perempuan perlu menciptakan suasana aman bagi kelompok gendernya melalui kesempatan dan peluang yang harus di manfaatkan dengan semaksimal mungkin. So, apakah kamu sudah mulai terbiasa mengambil peran di dunia kampus atau di ranah sosial? Apakah sudah tidak merasa malu atau takut salah terkait pernyataan yang kamu ungkapkan? Mari belajar dan bertumbuh, ambil semua kesempatan dengan melakukan rutinitas positif, menyingkirkan asumsi negatif, dan terus mengepakkan saya dengan pembiasaan diri mengambil peran dalam kontruk pendidikan dan sosial.

 

*) St.Maizah – Mahasiswa Institut Agama Islam Negeri Madura 

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi suaranet.id

 

Follow WhatsApp Channel www.suaranet.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Upgrade HP atau Upgrade Gengsi?
Catatan Kritis Seleksi Sekda Sumenep, Dosa-Dosa Birokratis dan Etis Calon Kuat
PPK Ormawa: Wadah Kreativitas Mahasiswa dan Motor Penggerak Kemandirian Desa
Standar Ganda Penegak Perda Hiburan di Pamekasan
Mengurai Misteri Dana Hibah Jatim: Siapa Dalang di Balik Kerugian Negara?
Intelektual Organik dalam Perjuangan Sosial dan Politik di Indonesia
Konflik Palestina: Ketika Dunia Diam, Rakyat Sipil Harus Bergerak
Drama Posko Pengaduan BSPS: Topeng Kepura-puraan DPRD Sumenep di Tengah Skandal Pokir

Berita Terkait

Minggu, 17 Mei 2026 - 10:32 WIB

Upgrade HP atau Upgrade Gengsi?

Jumat, 30 Januari 2026 - 15:47 WIB

Catatan Kritis Seleksi Sekda Sumenep, Dosa-Dosa Birokratis dan Etis Calon Kuat

Jumat, 26 September 2025 - 09:51 WIB

PPK Ormawa: Wadah Kreativitas Mahasiswa dan Motor Penggerak Kemandirian Desa

Selasa, 19 Agustus 2025 - 19:19 WIB

Standar Ganda Penegak Perda Hiburan di Pamekasan

Senin, 19 Mei 2025 - 14:44 WIB

Mengurai Misteri Dana Hibah Jatim: Siapa Dalang di Balik Kerugian Negara?

Berita Terbaru

Fenomena flexing gadget mahal di media sosial semakin sering ditemui di era digital. Banyak orang menjadikan gadget premium sebagai simbol gaya hidup, status sosial, dan sarana mencari validasi dari lingkungan sekitar. foto/ist

Opini

Upgrade HP atau Upgrade Gengsi?

Minggu, 17 Mei 2026 - 10:32 WIB