Puisi-puisi Afidira Tomi; Pulang

- Publisher

Senin, 6 September 2021

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy


Oleh: Afdira Tomy

Pulang

Jejak kemarin yang tertinggal di dadaku

Membuat ingatan-ingatan terbang

Meneriaki malam-malam bintang.

Ku teduhkan mimpi-mimpi kita

yang dulu sudah terangkai di dermaga

Hingga langit telah lelap

Senyum manjamu—masih melekat.

Kubiarkan air matamu menghampiriku

Menyinggahi rumah yang rela menampung

Kesedihanmu.

Tiap kau datang hanya—aku bisa menikmatinya

Adalah dewa zeus menghadirkan petirkekalahanmu—saat kita tak mampu melakukannya.

Adalah dewa neptunus yang menggulungkan

Ombak-ombak, untuk menghapuskan kegetiranmu

Saat, tangan-tangan ini tak kuat mendekapnya

kita menyepakati kepulangan diruang kegelapan.

 

Tak Perlu Dendam

Ada dingin menyingkap tirai mengetuk di jendela

Bersama angin—sedu menggenangi dada.

Ada rani terdengar tak sengaja di telinga

Ternyata bekas suaramu—mendera kepala saja.

Sedang apa kau di akun whattsapmu?

Rupanya kita sempat beribadah sepanjang waktu

Sampai segan saling kasih tahu.

Kau lupa hari-hari ini semakin kelabu

Antara rindu yang lengang—tak bertemu.

Tidak! bukan hanya itu

Ada yang lebih bergentayangan, “katamu

Apa? Aku mencoba mengingatnya, tetapi tak berdaya Wina.

Baca Juga  Menangkal Overclaim: Peran Edukasi dalam Meningkatkan Kecerdasan Konsumen

Halah… Kau pura-pura amnesia

Padahal ciuman pertama kita

Menanam kenangan—asmaraloka.

Sembari menghanyutkan salam perpisahan

I’m not going back. let it be honest. could receive cheap hearts.

Sebab pasca-kepergian

Dapat membendung kecemasan.

Pamekasan 5 Januari.

 

Kekasih Lekang Sarang Badai

Buat: Wina Mardania

Let me choose your name, as a love for difficult to sleep

Bila hanya hujan menjadi tubuh ini menggigil

Kemarau tak henti-hentinya kegersangan tanah.

Karena kita bercinta bagai seusia jagung kehabisan benih—sawah kehilangan hijau rerumputannya.

Meski ia bermuara telah meninggalkan sukma

Aku takkan lekang tertikam elang.

Yang gerimis menyukai pelukan kita—saat Tuhan tak mampu membendung air matanya.

Tetapi aku, tidak tahu untuk menyelamatkan kesedihan ini

Barangkali adakah seorang penyair—-rela menulis hikayat dirinya—demi isi kepalanya.

Yang perih tertumpuk oleh duri-duri cinta

Laksana, Seno Gumira Ajidarma.

Pamekasan 6 Januari.

Follow WhatsApp Channel www.suaranet.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Catatan Kritis Seleksi Sekda Sumenep, Dosa-Dosa Birokratis dan Etis Calon Kuat
PPK Ormawa: Wadah Kreativitas Mahasiswa dan Motor Penggerak Kemandirian Desa
Standar Ganda Penegak Perda Hiburan di Pamekasan
Mengurai Misteri Dana Hibah Jatim: Siapa Dalang di Balik Kerugian Negara?
Intelektual Organik dalam Perjuangan Sosial dan Politik di Indonesia
Konflik Palestina: Ketika Dunia Diam, Rakyat Sipil Harus Bergerak
Drama Posko Pengaduan BSPS: Topeng Kepura-puraan DPRD Sumenep di Tengah Skandal Pokir
Media Sosial dan Perubahan Paradigma Komunikasi

Berita Terkait

Jumat, 30 Januari 2026 - 15:47 WIB

Catatan Kritis Seleksi Sekda Sumenep, Dosa-Dosa Birokratis dan Etis Calon Kuat

Jumat, 26 September 2025 - 09:51 WIB

PPK Ormawa: Wadah Kreativitas Mahasiswa dan Motor Penggerak Kemandirian Desa

Selasa, 19 Agustus 2025 - 19:19 WIB

Standar Ganda Penegak Perda Hiburan di Pamekasan

Senin, 19 Mei 2025 - 14:44 WIB

Mengurai Misteri Dana Hibah Jatim: Siapa Dalang di Balik Kerugian Negara?

Senin, 28 April 2025 - 00:17 WIB

Intelektual Organik dalam Perjuangan Sosial dan Politik di Indonesia

Berita Terbaru