Pamekasan— Menjelang Ramadan 2026 yang diperkirakan jatuh pada 18 Februari mendatang, penjualan sarung sutra merek BHR di Kabupaten Pamekasan mulai menunjukkan peningkatan signifikan. Dalam beberapa hari terakhir, permintaan masyarakat terhadap sarung sutra khas tersebut terus melonjak.
Toko Sarung BHR yang berlokasi di Krajan Sumberbatas, Klompang Barat, Kecamatan Pakong, Kabupaten Pamekasan tampak lebih ramai dibanding hari-hari biasa. Lonjakan pembelian mulai terasa sejak awal pekan ini.
Owner Sarung BHR, Darwis, mengatakan tren peningkatan penjualan menjelang Ramadan dan Idul Fitri merupakan siklus tahunan yang selalu terjadi.
“Alhamdulillah, memasuki jelang Ramadan ini permintaan mulai naik. Dalam beberapa hari terakhir, pembeli lebih ramai dari biasanya. Biasanya memang setiap mau Ramadan dan Lebaran penjualan meningkat,” ujar Darwis saat ditemui di tokonya, Jumat (13/2/2026).
Menurut dia, sarung sutra BHR dikenal sebagai produk premium khas Pamekasan dengan kualitas bahan pilihan dan motif yang beragam. Sarung tersebut kerap digunakan untuk berbagai momentum spesial di tengah masyarakat.
“Sebagian untuk dipakai saat tarawih dan Lebaran. Tapi banyak juga yang membeli untuk hadiah atau bingkisan keluarga, hingga dipakai untuk acara pernikahan,” katanya.
Sarung sutra BHR dijual dengan harga bervariasi, tergantung motif dan kualitas bahan. Kisaran harga per lembar mulai dari Rp300.000, Rp350.000, Rp400.000, Rp500.000, Rp650.000, Rp700.000, Rp800.000, Rp1 juta, Rp1,2 juta, hingga Rp2 juta.
Pembeli yang datang pun beragam, mulai dari pedagang pasar, masyarakat desa, hingga kolektor sarung. Darwis memperkirakan tren kenaikan penjualan akan terus berlanjut hingga mendekati Idul Fitri.
Ia berharap momentum Ramadan tahun ini tidak hanya meningkatkan omzet penjualan, tetapi juga mampu menggerakkan perekonomian lokal, khususnya bagi pelaku usaha kecil dan menengah di Pamekasan.
“Semoga sarung BHR terus berkontribusi baik bagi masyarakat Madura,” harapnya.






