Oleh: Julyivia Purba
Langkah yang Tak Pernah Sia-Sia
Di setiap langkah yang kutempuh,
ada doa yang tak pernah runtuh.
Meski jalan dipenuhi batu,
aku percaya harapan tetap menunggu.
Bukan seragam yang membuatku kuat,
melainkan tekad yang tak pernah penat.
Air mata jatuh menjadi saksi,
bahwa mimpi lahir dari keberanian sejati.
Jika hari ini belum berhasil,
bukan berarti perjuangan telah berakhir.
Sebab kegagalan hanyalah jeda,
untuk mengajarkan arti menjadi dewasa.
Aku akan bangkit dengan keyakinan,
menata kembali setiap impian.
Karena seorang pejuang sejati
tak berhenti hanya karena sekali tersakiti.
Gugur Sebelum Berjuang
Di lapangan pagi yang dingin,
aku berdiri dengan dada penuh keyakinan.
Sepatu yang berdebu, napas yang tertahan,
membawa mimpi dari rumah sederhana yang jauh di belakang.
Seragam itu belum melekat di badan,
namun hati telah lebih dahulu mengabdi.
Setiap peluh kuhitung sebagai ibadah,
setiap sakit kusimpan demi cita-cita.
Aku adalah seorang casis Kowad,
gadis muda dengan mata seteguh baja.
Belajar menahan tangis,
belajar kuat meski tubuh nyaris habis.
Namun hidup terkadang terlalu kejam
bagi mimpi yang belum sempat sampai.
Bukan karena aku kalah berjuang,
bukan pula karena aku menyerah pulang.
Lapangan yang dahulu penuh harapan
mendadak menjadi tempat kehilangan.
Tak ada pelukan kemenangan,
hanya suara pengumuman yang mematahkan masa depan perlahan.
Kini langkahku tak lagi di barisan,
namaku hilang dari panggilan.
Namun semangatku tetap tinggal
di setiap jengkal tanah Lapangan Bukit Barisan Ajendam yang pernah kupijak.
Sebab seorang pejuang
tak selalu kalah saat gugur.
Kadang aku hanya dipaksa berhenti
oleh nasib yang datang terlalu terburu-buru.
_______
Penulis
Julyivia Purba lahir di Kabanjahe pada 22 Oktober 2007. Saat ini menempuh pendidikan di Program Studi Teknik Komputer, Politeknik Bisnis Indonesia, Pematangsiantar, Sumatera Utara.






