Sumenep – Menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disalurkan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Lenteng Timur milik Yayasan Rumah Juang Garuda Emas menjadi sorotan. Pasalnya, komposisi susu dalam paket tersebut dinilai tidak sesuai dengan rekomendasi Badan Gizi Nasional (BGN).
Dalam dokumentasi foto menu yang beredar, paket MBG untuk penerima di Kecamatan Lenteng dibagikan dalam skema bundling tiga hari. Untuk porsi kecil, isi paket berupa satu bungkus roti, tiga susu kotak merek Indomilk rasa stroberi dan cokelat, empat butir telur puyuh, dua bungkus abon, satu buah jeruk, dan empat buah kurma.
Sedangkan porsi besar berisi satu roti, tiga susu kotak merek Indomilk rasa cokelat, dua butir telur ayam, satu bungkus abon, satu buah jeruk, serta enam buah kurma. Seluruh item tersebut merupakan akumulasi jatah selama tiga hari yang didistribusikan dua kali dalam sepekan.
Kepala SPPG Lenteng Timur, Aril Maulana Ramadhan, menjelaskan bahwa sistem penyaluran dilakukan dengan metode penggabungan tiga hari. Menurutnya, meski menu dihitung per hari, pendistribusian dilakukan secara kolektif agar lebih efektif.
Ia juga menegaskan, susu dalam paket MBG bukan komponen wajib. “Susu itu hanya sebagai tambahan sebenarnya, sebagai pelengkap, sebagai tambahan protein,” ujarnya.
Terkait anggaran, Aril menyebut porsi kecil dialokasikan Rp 8 ribu per porsi, sedangkan porsi besar Rp 10 ribu per porsi. Komposisi menu, kata dia, disesuaikan dengan kebutuhan gizi masing-masing penerima. Penggunaan telur puyuh pada porsi kecil disebut sebagai bentuk penyesuaian kebutuhan protein.
“Itu sudah sesuai semua dengan anggaran yang telah ditetapkan,” tandasnya.
Sementara itu, Koordinator Wilayah SPPG Sumenep, Moh. Kholilurrahman Hidayatullah, membenarkan bahwa susu tidak lagi menjadi komponen wajib dalam menu MBG karena unsur protein telah tercukupi dari protein hewani. Namun, ia menegaskan jika tetap menggunakan susu, maka seharusnya jenis full cream, bukan susu rasa.
“Bukan menjadi kewajiban, jadi kalau mau memberikan susu harus full cream jangan yang rasa-rasa,” terangnya.
Ia mengakui, masih adanya penggunaan susu rasa di sejumlah SPPG disebabkan ketersediaan susu full cream yang disebut masih terbatas. Meski demikian, pihaknya memastikan akan melakukan evaluasi.
“Nanti kami arahkan ke hal-hal baru, akan kami lakukan evaluasi bersama terkait itu,” pungkasnya. (dim/*)






