Kedua, Empati yang luar biasa
Sebagai manusia biasa yang kerap memiliki emosi, kadang kita merasa sedih, senang, takut dan lainnya termasuk empati.
Empati disini adalah bagian dari kelembutan seorang mahasiswa yang lulus semester terakhir, mereka memilikiempati yang luar biasa kepada mereka yang tidak bisa kuliah, betapa susahnya masuk kampus tapi kita yang suda masuk malah ingin buru-buru keluar.
Hal ini (dalam pendangan penulis) merupakan pelecehan kecil, mirip seperti kita pamer makanan di depan mereka yang tidak mampu beli makanan atau sedang berpuasa. Kurang baik apa mereka yang lulus semester 14?
Ketiga, Berharap dimudahkan masuk surga dengan jalan mencari ilmu
Kita mungkin pernah mendengar ada pitutur dari orang suci yang terjemahannya begini “Barang siapa yang menempuh jalan untuk menuntut ilmu (belajar), maka Allah mudahkan jalannya menuju surga” (HR. Muslim)
Pitutur tersebut bisa menjadi pegangan yang kokoh untuk masuk surga dengan mudah karena mahasiswa adalah bagian dari seorang yang berada di jalan ilmu, semester 14 merupakan bagian dari jalan ilmu maka, kita berdoa kepada Allah semoga dimudahkan masuk surga.
Keempat, Melatih kedermawanan dengan menjadi donatur tetap
Mahasiswa yang belum lulus mereka yang tidak mendapat beasiswa atau tidak sedang mengambil cuti maka diwajibkan membayar uang semester termasuk semester akhir yang tidak menggunakan fasilitas kampus.
Tapi memiliki loyalitas untuk berkontribusi memberikan sumbangan sukarela (terlepas dari regulasi yang ada) tetapi yang jelas uang mereka masuk kepada kampus atau kas negara. Bisa jadi uang mereka digunakan untuk membiayai mahasiswa miskin dan berprestasi. Kurang dermawan apa mereka?
Kelima, Mengurangi angka pengangguran.
Seperti kita ketahui bahwa angka pengangguran di negeri ini masih tergolong tinggi, dan angka tersebut akan terus bertambah seiring dengan jumlah mahasiswa yang lulus dari berbagai universitas, sedangkan mahasiswa yang masih berstatus mahasiswa merupakan pelajar, jadi wajar jika belum bekerja.
Waktu tersebut bisa digunakan untuk mengasah skill, membangun relasi dan tentu membaca berbagai buku, syukur juga jika masih bisa menghasilkan uang dengan menjadi penyair, berdagang atau apapun itu. Yang penting tetap melakukan kebaikan dan meningkatkan produktifitas.
Kelima alasan tersebut hanya sebagai opini penulis yang tidak disarankan untuk ditiru. Ini hanya sebagai upaya untuk membangun positif thingking dan husnudzon kepada setiap mahasiswa yang tidak cepat lulus atau lulus pada waktu yang lebih lama dari kebanyakan.
Kembali kepada kalimat pembuka “Selesaikan apa yang telah kamu mulai!”
Halaman : 1 2






