Kasus Cukai Melebar, Sejumlah Pengusaha Rokok di Sumenep Masuk Radar KPK

- Publisher

Minggu, 12 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kantor KPK/ist

Kantor KPK/ist

Sumenep — Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus mengembangkan penyidikan kasus dugaan suap di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC). Dalam perkembangan terbaru, pengusutan tersebut mulai merambah ke daerah, termasuk Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, dengan sejumlah pengusaha rokok lokal disebut masuk dalam radar pemeriksaan.

Langkah ini merupakan bagian dari pendalaman perkara yang sebelumnya berfokus pada dugaan praktik suap di tingkat pusat. Kini, KPK mulai menelusuri kemungkinan keterlibatan pelaku usaha di daerah, khususnya produsen rokok skala kecil dan menengah di Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Sejumlah nama pengusaha rokok di Sumenep dikabarkan muncul dalam penelusuran awal. Mereka diduga memiliki keterkaitan dengan aktivitas industri hasil tembakau, terutama segmen sigaret kretek tangan (SKT), yang selama ini dikenal rentan terhadap praktik penyimpangan.

Meski demikian, hingga saat ini KPK belum memberikan konfirmasi resmi terkait status hukum pihak-pihak yang namanya beredar. Penelusuran masih berada pada tahap awal dan belum mengarah pada penetapan tersangka.

Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, menegaskan bahwa penyidikan yang dilakukan tidak hanya menyasar aktor di tingkat pusat, tetapi juga membuka kemungkinan keterlibatan pihak di daerah.

Baca Juga  Operasi Pasar Sembako Pemkab Pamekasan Jadi Solusi Atasi Kenaikan Harga

“Saat ini di antaranya dari Jawa Tengah dan juga Jawa Timur. Kita akan melakukan pemetaan siapa saja yang melakukan pemberian kepada oknum di Bea Cukai,” ujar Budi di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta.

Pernyataan tersebut memperkuat dugaan bahwa perkara ini tidak hanya menyangkut oknum aparat, tetapi juga relasi dengan pelaku usaha yang diduga terlibat dalam praktik ilegal di sektor cukai.

Dalam pengusutan ini, KPK menyoroti sejumlah modus yang kerap terjadi, di antaranya penyalahgunaan pita cukai, penggunaan pita cukai palsu, hingga praktik yang dikenal sebagai “beternak pita cukai”.

Modus terakhir merujuk pada pengadaan pita cukai dalam jumlah besar yang tidak sesuai dengan kapasitas produksi riil perusahaan.

Penelusuran KPK juga diperkuat dengan data dari Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) yang mengindikasikan adanya transaksi keuangan mencurigakan terkait sektor ini. Selain itu, Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) disebut turut melakukan penindakan di lapangan, khususnya dalam memburu jaringan produksi dan distribusi rokok ilegal.

Baca Juga  Strategi Paslon BERBAKTI Atasi Stunting di Pamekasan

Tidak hanya menyasar individu, pengusutan ini juga menyentuh struktur industri secara lebih luas. Sebanyak 271 perusahaan rokok (PR) skala kecil dan menengah di wilayah Madura, termasuk Sumenep, dikabarkan akan ikut diperiksa sebagai bagian dari proses pendalaman.

Langkah ini dinilai sebagai sinyal kuat bahwa pemerintah mulai memperketat pengawasan terhadap industri hasil tembakau rakyat yang selama ini kerap berada di wilayah abu-abu regulasi.

Hingga kini, KPK belum mengumumkan hasil akhir penyidikan maupun pihak yang ditetapkan sebagai tersangka. Namun, jika pengusutan terus berkembang, Sumenep berpotensi menjadi salah satu titik penting dalam pengungkapan dugaan pelanggaran di sektor cukai nasional.

Kasus ini sekaligus menjadi peringatan bagi pelaku usaha agar menjalankan aktivitas bisnis sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku, khususnya dalam penggunaan pita cukai dan distribusi produk tembakau.

Follow WhatsApp Channel www.suaranet.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Tak Bisa Lagi Bersembunyi, Buron Kasus Tambang PT Bososi Dipulangkan Interpol ke Indonesia
Mengurai Misteri Dokumen Palsu di Pusaran Timah Ilegal PT MSP
TNI AL Gagalkan Penyelundupan 6 Ton Pasir Timah Ilegal Asal Bangka di Jakarta Utara
Terendus Intelijen, TNI AL Gagalkan Pengiriman 3,88 Ton Pasir Timah Ilegal di Perairan Babel
Dugaan Timah Ilegal, Aktivis Desak Pengusutan Rantai Pasok PT Mitra Stania Prima
KPK Kehilangan Taring dalam Penanganan Kasus Dana Hibah Jatim
Harta Kaisar Kiasa Rp627,68 Miliar, Jauh Melampaui Kekayaan Said Abdullah, Kok Bisa?
MTN Seni Budaya Gelar Residensi Menulis “Menggarami Tiga Praja”

Berita Terkait

Jumat, 17 Juli 2026 - 23:49 WIB

Tak Bisa Lagi Bersembunyi, Buron Kasus Tambang PT Bososi Dipulangkan Interpol ke Indonesia

Minggu, 5 Juli 2026 - 10:52 WIB

Mengurai Misteri Dokumen Palsu di Pusaran Timah Ilegal PT MSP

Minggu, 5 Juli 2026 - 03:28 WIB

TNI AL Gagalkan Penyelundupan 6 Ton Pasir Timah Ilegal Asal Bangka di Jakarta Utara

Minggu, 5 Juli 2026 - 03:05 WIB

Terendus Intelijen, TNI AL Gagalkan Pengiriman 3,88 Ton Pasir Timah Ilegal di Perairan Babel

Selasa, 30 Juni 2026 - 13:51 WIB

KPK Kehilangan Taring dalam Penanganan Kasus Dana Hibah Jatim

Berita Terbaru

Ilustrasi

Sastra

Puisi-Puisi Perjuangan Julyivia Purba

Minggu, 5 Jul 2026 - 04:12 WIB