PAMEKASAN – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Pamekasan tengah menjadi sorotan setelah sebuah video yang memperlihatkan susu Tango Kido diduga berulat viral di media sosial. Video tersebut memicu kekhawatiran orang tua murid terkait keamanan konsumsi makanan dan minuman di sekolah.
Dalam rekaman yang beredar, seorang pria menunjukkan kemasan susu Tango Kido dengan tanggal kedaluwarsa masih lama, yakni hingga 2027. Ia mengklaim susu tersebut berisi ulat dan meminta pihak pengawas MBG segera turun tangan. Sejumlah siswa sekolah dasar tampak berada di lokasi saat video direkam dan terlihat kebingungan atas kondisi tersebut.
Kasus ini langsung menarik perhatian publik karena MBG merupakan program yang dirancang untuk meningkatkan gizi anak-anak sekolah. Dugaan adanya produk bermasalah dinilai dapat merusak kepercayaan masyarakat jika tidak segera diklarifikasi.
Hingga pertengahan April 2026, belum ada keterangan resmi dari pihak pelaksana MBG maupun instansi terkait di Pamekasan. Kondisi ini membuat masyarakat semakin menuntut transparansi dan penjelasan menyeluruh atas kejadian tersebut.
Pihak distributor pun angkat bicara. Kepala Gudang Distributor susu, Hendra, menyatakan belum dapat memastikan apakah produk dalam video berasal dari jalur distribusi resmi. Ia menilai rekaman tersebut tidak memperlihatkan proses pembukaan kemasan secara utuh.
“Tidak terlihat jelas apakah itu produk kami atau bukan, karena tidak ada proses pembukaan yang lengkap,” ujarnya saat dikonfirmasi.
Ia juga mengungkapkan bahwa stok susu di gudang telah kosong sejak awal April 2026. “Hampir satu bulan stok kosong. Begitu barang datang, langsung kami distribusikan,” katanya.
Terkait dugaan adanya ulat, Hendra menyebut kemungkinan adanya kebocoran pada kemasan. “Bisa saja terjadi kebocoran, lalu tetap tersalurkan ke dapur MBG,” tambahnya.
Sementara itu, perwakilan supervisor produk, Agnes, menyatakan laporan tersebut telah diteruskan ke manajemen untuk ditindaklanjuti.
Di tengah polemik ini, desakan agar pengawasan distribusi makanan sekolah diperketat semakin menguat. Mulai dari proses penyimpanan, pengiriman, hingga penyajian di sekolah dinilai harus diawasi secara ketat untuk mencegah kejadian serupa.
Seorang guru taman kanak-kanak di wilayah Kertagena Daya turut menyuarakan kekhawatiran. Ia berharap pengawasan terhadap program MBG benar-benar dilakukan secara maksimal demi kesehatan anak-anak.
“Yang dibutuhkan masyarakat bukan hanya klarifikasi, tapi jaminan bahwa makanan dan minuman yang diberikan kepada siswa aman setiap hari,” ujarnya.
Kasus ini menjadi pengingat penting bahwa keberhasilan program gizi tidak hanya bergantung pada ketersediaan, tetapi juga pada kualitas dan keamanan konsumsi. Transparansi hasil pemeriksaan kini menjadi kunci untuk memulihkan kepercayaan publik terhadap program MBG di Pamekasan.






